Mencintai Keturunan Rasulullah

10:01 PM

Minggu lalu dalam perjalanan di mobil, saya dan kakak laki-laki saya atau saya panggil Abang mengobrol banyak hal tentang perjalanan dia selama seminggu dalam rute silaturahim. Rute perjalanan Abang menyebarkan undangan Haul Sayyidatina Fatimah bin Rasulullah ke jama'ah, seperti halnya yang dilakukan para pendahulu simbah Malik, pakde sampai bapak saya.

Perjalanan kali ini menjadi hal yang paling terkenang untuk Abang. Berhubung pembicara ceramanh di Haul nanti adalah Habib Umar Muthohar, mendekati acara puncang Abang harus silaturahim ke rumah Beliau untuk memastikan kehadiran beliau. Singkat cerita sampailah Abang di Semarang kediaman Habib Umar Muthohar namun tidak langsung bertemu karena beliau sedang tindak (pergi) ke Jepara. Abang tetap menunggu semalam, esok harinya beliau akhirnya menemui Abang namun ternyata tidak sendiri, ternyata ada Habib Ja'far.

Dalam perjalanan kami di mobil, Abang bercerita bagaimana ia terkesan bertemu dengan Habib Ja'far. Sebelumnya saya baru mengenal Habib Ja'far ketika acara maulid di tempat Habib Luthfi Pekalongan, dimana Habib Ja'far nampak digandeng oleh Abah tepat di kiri beliau, dan di kanan beliau Bapak Presiden. Siapa Habib Ja'far? saya tidak tahu kala itu, yang saya meyakini Habib Ja'far pasti spesial. Bagaimana tidak spesial? beliau digandeng Abah sejajar Presiden Jokowi kok.

Kala itu Abang bercerita ketika bertemu Habib Ja'far seperti ketemu bayi. Kalian tau kalau ketemu bayi bagaimana? rasanya menggembirakan, ingin memeluk, mencium, mendekat terus. Ketika pertama mencium tangan Habib Ja'far, Abang memperkenalkan diri dan dari mana. Ternyata setelah memperkenalkan diri, Habib Ja'far tidak begitu asing dengan Kedung Paruk.

Dari cerita Habib Ja'far, beliau pernah ke rumah simbah Malik Kedung Paruk ketika masih muda menggunakan motor. Setelah sowan dalam perjalanan pulang beliau ketilang polisi di tengah jalan. Lucunya dalam menceritakan cerita tersebut ke Abang dan di depan Habib Umar Muthohar seperti bercerita suatu kenangan yang sangat mengena di hidup beliau. Kurang lebih percakapannya seperti ini.

"mbiyen awak dhewe pernah nggone simbah tho mar? ketilang polisi pas bali, jek urip orak kuwi yaa polisine, asem tenan" Habib Ja'far.

Dalam bertemu dengan Habib Umar Muthohar, abang juga harus menunggu semalam lagi karena baru sampai di kediamannya, Habib Ja'far sudah mengajak Habib Umar ke pantai Marine Semarang. Mau ngapain ke pantai Marine tengah malam?. Ternyata ada tamu beberapa pengusaha yang menurut cerita meminta didoakan Habib Ja'far. Apa yang dilakukan di Pantai?

Tengah malam abang mengikuti Habib Umar dan Habib Ja'far ke pantai. Ternyata Habib Ja'far menghamburkan uang setas besar milik pengusaha tersebut sembari di doakan dan mengangkat kedua tangan Habib Ja'far "berkah, berkah".

Bagaimana bisa uang sebanyak itu dibuang begitu saja? saya sampai ternganga mendengar cerita abang. Namun begitulah kita tidak sampai mengetahui apa yang diketahui beliau.

Abang juga bercerita ketika momen berfoto dengan Habib Ja'far. Saat itu, abang berpesan dengan santri yang diminta untuk memfoto Habib Ja'far dengan abang tapi jangan sampai Habib Ja'far tahu kalo sedang di foto. Namun tiba-tiba Habib Ja'far mengetahui kalau ada yang mengambil fotonya, sontak baliau langsung menyelutuk.

"ngopo kui"
"anu ambil foto buat kenang-kenangan"
"nggo kenang-kenangan, ojoo foto yo foto ojo nggo kenangan"

Konon ada cerita 3 orang yang sowan ke Habib Ja'far ketika pulang mereka pamitan dengan maksud untuk pulang. Namun Habib Ja'far mengatakan "arep ngendi kok pamitan, ojo pamitan bali yo bali ojo pamitan"

"nggeh bib pamitan arep tindak"
"tindak ngendi, bali yo bali too ojo mekso pamit karo aku"

singkat cerita karena 3 orang tersebut memaksa untuk berpamitan Habib Ja'far melegakannya untuk mereka berpamitan. Ternyata benar mereka berpamitan karena mengalami kecelakaan di tengah perjalanan pulang.

Ketika momen foto tersebut Habib Umar juga mengatakan "untung Habib Ja'far gak bilang buat kenangan, kalau sampai dia ngomong benar buat kenangan"

Mendengar cerita tersebut saya benar meyakini kalau ucapan adalah doa baik buruk, apalagi kalau yang berucap adalah seorang yang sudah sangat dekat dengan Allah. Kemudian saya juga akhirnya tahu dan membuktikan kalau memang Habib Ja'far bukan sembarang Habib biasa. Habib Ja'far merupakan satu contoh yang dapat kita cintai.

Abang dengan Habib Ja'far di kediaman Habib Umar Muthohar



Cerita ini saya abadikan karena agar terus mengingat, kurang lebih dari cerita mohon dimaafkan karena baru ditulis seminggu setelahnya, Terimakasih.

You Might Also Like

0 comment

Terimakasih sudah bersedia membaca, silahkan isi pesan dan kesan atau kritik di kolom komentar dibawah ini