next step

8:34 AM

source : klik

bagi yang sudah lulus kuliah mungkin next stepnya adalah kerja.


siapa sih yang ga mau kerja dengan gaji yang besar? istilahnya ini pembalasan belajar selama belasan tahun akhirnya sampai di puncak kehidupan, mandiri mencari uang, sukur-sukur bisa membahagiakan orangtua.

impian buat yang sudah lulus apalagi saya yang lulusan kimia nantinya (belum lulus), akan mencari pekerjaan di pabrik, atau berminat di bumn, pns, mencari pekerjaan yang gajinya besar diatas 4 juta, diatas UMR kalau bisa.

saya yakin impian itu ada di benak teman-teman saya sekarang.

dulu saya pernah bermimpi saya ingin bekerja di bumn, sukur di luar daerah. entah kenapa saya sangat mengingkan untuk bekerja di luar daerah, daerah ujung atau perbatas, daerah yang jauh dari hiruk pikuk keramaian dan ke-metropolitan. tapi lambat laun melihat para karyawan kayaknya terlalu lelah bekerja, pagi berangkat pulang malam, weekend kadang kerja bagi yang kerja di pabrik pasti tidak ada hari libur, hari libur dipakai untuk tidur. hemmmm sepertinya itu bukan saya bangetsss.

akhirnya membuat saya mikir berkali lipat untuk jadi mbak-mbak karyawan.

terus mau kerja apa? yang ga capek? hahahahah mimpi kalo kerja itu ga mau capek terus mau dapet duitnya doang. 

tapi saya masih kok kepingin nyoba kerja di pabrik, itung-itung biar saya keliatan sarjana kimia-nya. nyoba setahun paling ngak.

setiap saya membahas masalah pekerjaan dengan ibu, saya menuturkan atau bercerita tentang kaka kelas yang udah enak kerjanya, ibupun cuma "waaah kamu bisa tuh mba, enak yaaa" tapi ga pernah bilang kamu harus kerja mba di pabrik, harus itu tidak pernah dituturkan ibu ataupun bapak.

bahkan pada saat kemarin saya ditawarkan kerjaan oleh kakak sepupu pada proyek asing saya ditawarkan sebagai yang ngolah dokumen gitu, ketika menuturkan ke ibu, ibu tidak langsung menjawab "ambil aja", padahal menurut saya gajinya cukup menjanjikan, tapi ada satu hal membuat saya berat mengambil kerjaan itu, padahal juga saya tuh kepengen banget kerja kebetulan kesibukan saya cuma ngerjain skripsi itupun kalo lagi mood dan otak encer. 

satu hal yang membuat saya berat, karena ada anak-anak les di rumah. fyi, mereka adalah murid madrasah dekat rumah, mereka latar belakangnya dari kelas bawah. tukang sayur. ternyata politik derajat kelas harta itu nyata ada di sekolahan, termasuk di pendidikan dasar. di madrasah mereka kelasnya dibagi dua 5A dan 5B, untuk 5A khusus untuk orang kaya, yang pinter, sedangkan kelas 5B kelas yang kelas bawah, pinter juga gak banget, kalo liat secara langsung jelas beda banget yang 5A itu bersih-bersih banget, pakaian mereka, tas dan sepatu mereka, nah kalo 5B keliatan item butek, lusuh bajunya.

bahkan guru matematikanya-pun juga mengadakan les bahasa inggris dan matematika, nah kebanyakan murid-murid yang mampu pada les di gurunya, otomatis waktu ujian atau ulangan yang ikut les pasti hasilnya lebih bagus. contohnya kemarin waktu ulangan matematika, di kelas 5A semua anak nilainya bagus-bagus, sedangkan di 5B yang ga remed cuma satu orang itupun karena dia les di gurunya.

kalo diliat dibandingkan saya jaman SD, kebetulan saya SD di kampung, latar belakangnyapun rata-rata kelas bawah, tapi saya inget banget setiap sore ada les tambahan dan itu bebas biayanya, semua anak boleh les sama gurunya di sekolahan waktu itu. aah emang beda jaman sekarang sama dulu, guru jaman dulu kayaknya ga pernah nilai mata uang sebagai utama pencapaian hidup, jaman sekarang? jangan ditanya, pasti guru mikir di gaji berapa gue?

karena saya pernah mengalami hal dimana lingkungan saya rata-rata kelas bawah saya bisa merasakan menjadi 2 anak murid les saya. kebayang gimana mereka susah belajar, apalagi latar belakang bapak ibunya yang hanya tukang sayur dan tidak bisa membimbing mereka. rasanya gemes, tantangannya adalah harus kerja ekstra buat mereka ngerti, karena susahnya minta ampun. ngajarin anak pinter sama anak yang susah mengerti itu bertolak belakang banget.

merekalah yang membuat saya merelakan tawaran pekerjaan, dan merelakan privat di satu rumah yang mendonasikan keuangan saya yang cukup besar. bismillah, semoga menjadi ladang amal kebaikan.

next step selanjutnya, saya ingin tetap coba kerja di pabrik (ngerasain dulu), walau sebenernya passion saya ga disana. passion saya juga bukan di anak kecil. fyi, ibu sudah ngomong ke anak-anaknya bahwa mereka (saya) sudah harus mulai terjun ke yayasan yang sudah didirikan ibu dan bapak.

kebayang kan? anak-anak ibu saya yang berbeda gelar, pendidikan bahasa inggris, pendidikan agama, saya nanti sarjana kimia. harus meneruskan perjuangan ibu bapak yang latar belakangnya manejemen pendidikan, walaupun ibu saya sarjana pendidikan bahasa arab dan bapak pendidikan bahasa inggris. yang ngelantur cuma saya.

pastilah kalo kerja di ketek emak itu ga enak, banyak omongan, apalagi saya pasti nanti di omongin "sarjana kimia kok ngajar anak TK? ngajar ngaji? ngajar bahasa arab? ngajar hadist?" pasti saya yakin, teman sayapun akan seperti itu. makannya saya masih berfikir lagi untuk terjun langsung, hahaha

saya jadi inget cerita dari buku yang dikasih oleh mas rifa'i, kakaknya sarjana pertanian tapi harus mulai memegang surau yang sudah didirikan kakeknya, awalnya menolak karena beberapa hal salah satunya idealisme, keinginan yang ingin jadi pekerja yang mapan, namun ternyata jalan dia bukan disana, ya memang garisnya adalah menjadi pengganti kakeknya, gelar? gelar bukan untuk mencari pekerjaan. 

tapi saya masih jauh dari menjauhi idealisme hidup.

mudah-mudahan mengalir saja, bahwa manusia adalah pembelajar bukan? ikuti kata hati, walau nanti salah jalan bukan berarti gagal, ikuti saja perjalanannya dan nikmati.

entah jadi apa saya nanti, saya tidak bisa menentukan sekarang. nasib hamba Allah itu berbeda-beda, jalan setiap orang itu berbeda-beda, harus dimengerti dan dinikmati. 

salam.
farha

You Might Also Like

0 comment

Terimakasih sudah bersedia membaca, silahkan isi pesan dan kesan atau kritik di kolom komentar dibawah ini