biologi umum bu lili

10:42 AM

DAMPAK NEGATIF TEKNOLOGI AIR KEMASAN ATAU ISI ULANG TERHADAP MANUSIA

Memasuki era globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah memberikan kemudahan kepada manusia seperti yang kita rasakan dan kita lihat ini dari memperoleh bahan kebutuhan sehari-hari, alat transportasi dilaut, darat maupun udara, peralatan kesehatan, bangunan untuk tempat tinggal, rumah sakit, industri, perkantoran hingga tempat rekreasi, peralatan teknologi informasi & komunikasi yang semakin canggih dengan harga semakin murah. Tanpa kita sadari kemudahan yang diberikan teknologi menghasilkan banyak pencemaran dibidang ekosistem yang mengancam rusaknya ekosistem lingkup kecil hingga lingkup global.
Contoh dari pencemaran ekosistem lingkup kecil antara lain : pencemaran air tanah sehingga ketidakseterdiaan air tanah yang layak dipergunakan sehari-hari. Air yang sudah menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan kita selalu bersirkulasi secara dinamik, baik di lingkungan sekitar seperti di udara, tanah, dan tumbuhan maupun dalam tubuh kita sendiri. Air merupakan zat yang sangat penting karena hampir semua reaksi kimia dalam kehidupan memerlukan air, sehingga kekurangan atau ketiadaan air dapat lebih cepat membunuh daripada kekurangan nutrien lain. Khususnya di Indonesia yang berpenduduk lebih dari 240 juta jiwa ini air minum masih merupakan permasalahan yang serius. Infrastruktur yang tersedia masih sangat terbatas , dimana sebagian besar anggota masyarakat masih harus mencari jalan keluar dengan caranya masing-masing guna mendapatkan air minum yang merupakan kebutuhan hariannya. Disamping air PAM, sumber air minum yang umum digunakan adalah air sungai/ danau/ sumber alam dan air sumur dengan proses pengolahan yang minim dengan teknologi tradisional, air botol, dan air isi ulang (refill).
Dari sumber air minum yang digunakan yang menjadi masalah saat ini adalah air isi ulang (refill) atau sebutan resminya Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Banyak yang mempertanyakan sehat atau tidakkah jika kita mengkonsumsi air isi ulang atau AMDK tersebut.
Kemajuan teknologi yang mempermudah masyarakat meyebabkan masyarakat lebih memilih air isi ulang dengan membeli dengan sangat mudah dan murah di depot air isi ulang yang saat ini tersebar luas di Indonesia khususnya di Kota-kota besar. Kemudahan ini dikarenakan air isi ulang lebih praktis pemakaiannya dan tidak perlu berlama-lama memasak air lagi, tentunya juga dikarenakan harga yang sangat murah untuk mendapatkan air isi ulang tersebut.
Saat ini ndustri AMDK pernah mencapai booming-nya dan tumbuh di mana-mana. Kini di setiap daerah pegunungan yang mengandung sumber air telah bercokol lebih dari satu perusahaan AMDK. Merek perdagangan AMDK di pasaran sangat beragam. Pada tahun 2001 saja sudah terdapat 350 perusahaan AMDK dengan kapasitas produksi 7,10 miliar liter per tahun (Ditjen Industri Kimia, Agro, dan Hasil Hutan Depperindag, 3 Juli 2002).
Ada berbagai macam proses penyaringan isi ulang yang ada dipasaran dari yang seder hana hingga yang berteknologi terkini. Secara umum teknologi yang sederhana seperti gambar dibawah ini... ini adalah proses yang sederhana dan murah dengan kualitas standard.
Proses filterisasi sederhana --- proses langsung jadi
Keterangan :
1. Pompa semi jet (dianjurkan penggunaan stainless steel)
2. Filter Media ---> umumnya pasir silika bangka akan lebih baik penggunaan antracite atau ferro
3. Filter Media ---> karbon aktif (gunakanlah karbon yang berkualitas baik dengan nilai absorb 900 keatas)
4. Filter catridge --->banyak isi ulang menggunakan lebih dari 4 buah ... tetapi kesemuanya tergantung kualitas dari catridge itu
5.Ozone processor
6. Pipa foodgrade ---> usahakan jangan menggunakan pipa PVC yang tidak foodgrade karena akan menjadi sarang bakteri pada sambungan pipa yang terkena lem, gunakan hanya pipa tanpa lem dan pergunakan siku yang seminimal mungkin.
7. Ultra violet ---> sesuaikan UV dengan flow pompa agar bakteri tidak lolos
8. Sistem pengisian .---> selalu tertutup rapat agar mencegah kotoran dan bakteri udara menyebar, bila memeungkinkan gunakan UV Ruang tapi .... awat radiasinya berbahaya terkena kulit dan mata
9. Sistem pencucian galon dan pembilasan galon ---> gunakan bahan kimia yang aman untuk dikonsumsi sehingga tidak terjadi efek samping. Untuk proses tersebut dapat dikembangkan misalkan filter media menggunakan 3 tabung atau filter media menggunakan stainless steel (untuk penampilan) tetapi gunakan ss tabung 304 karena stainless bukan selamanya lebih baik dari tabung FRP. Jangan salah bahwa semakin banyak filter media yang digunakan akan semakin baik ... tetapi lebih diperhatikan kualitas dari media tersebut ini yang akan sangat membantu dari rasa air minum.
Atau catridge filer menggunakan kualitas yang bagus dan juga dapat dipergunakan dalam jumlah lebih banyak bahkan sistem tersebut dapat dikembangkan juga menggunakan sistem Ultra Filtrasi 0.01 mikron sehingga kualitas lebih baik.
Pemasangan ozone juga harus disesuaikan dengan kapasitas pompa ... banyaknya ozone yang penulis temui di tempat-tempat isi ulang tidak sesuai dengan kapasitas pompa yang digunakan ... jadi hanya sekedar ada ozone tetapi manffatnya tidak maksimal.
UV (ultra violet) sebagai proses sterilisasi merupakan hal paling penting dalam proses sederhana ini karena ini adalah jantung kedua setelah ozone jadi kapasitas/kemampuan UV tersebut harus diperhatikan dan disesuaikan dengan pompa . ingat investasi anda belum tentu lebih cepat kembali dengan menggunakan sistem yang murah .tetapi investasi akan cepat kembali bila memasang sistem yang baik disertai promosi yang efektiflah yang akan mempercepat investasi kembali hal inilah yang perlu diperhatikan.
Adapun yang teknologi lain yaitu Reverse Osmosis (RO) adalah salah satu dari sekian banyak teknologi yang diterapkan pada mesin pengolah air untuk mendapatkan air minum yang siap saji dan laik minum.
Teknologi RO mengadopsi kebalikan dari sifat alamiah “osmosis” yaitu dengan melewatkan air dari yang kepekatannya tinggi menuju ke daerah yang kepekatannya rendah melalui suatu membran tertentu sebagai filter.
Membran tersebut mempunyai ukuran yang sangat kecil 1/10.000 mikron, sehingga untuk melewatkan air tersebut dibutuhkan tekanan yang sangat tinggi.
Membran RO memungkinkan menyaring seluruh partikel kontaminan yang berukuran lebih besar dari 1/10.000 mikron. Tak ayal lagi berbagai kontaminan baik itu yang bersifat polutan maupun mineral asalkan lebih besar dari ukuran tersebut diatas disaringnya, sehingga dihasilkan air murni yang kaya akan oksigen.
Air hasil RO sangat baik sekali diterapkan dalam metoda terapi untuk berbagai penyakit karena sebagian besar dari tubuh kita terdiri dari unsur air, baca “Air Faktor Terpenting Bagi Tubuh“.
Air hasil RO dapat diukur menggunakan alat TDS (Total Dissolved Solid) meter dengan satuan ppm (part per millions) dan dapat pula dilakukan pengetesan elekrolisa air menggunakan electric precipitator.
Dalam pengetesan elektrolisa air sediakan beberapa gelas yang berisi air putih bening yang berasal dari beberapa sumber, misal air masak dari daerah A, daerah B, daerah C, dimana salah satunya terdapat air dari RO.
Dimana secara kasat mata kita tidak dapat mengetahui air manakah yang layak minum, tidak tercemar dan baik untuk kesehatan kita. Celupkan alat “electric precipitator” kedalam gelas, dalam beberapa menit akan terlihat hasil elektrolisa, berupa air keruh seperti halnya air “comberan” dan juga terasa panas karena banyak terdapat kandungan logam berat didalamnya.
Bahan logam yang terlarut didalamnya pun dapat dianalisa dengan melihat warna.
Seperti dikatakan diatas bahwa RO akan menghasilkan air murni berkualitas baik yang banyak mengandung oksigen sehingga hasil dari elektrolisa pun menunjukkan air tetap dalam kadaan bening.
Tetapi nyatanya menurut hasil penelitian tim peneliti dari Laboratorium Teknologi dan Manajemen Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) diketahui terdapat 16 persen dari 120 sampel depo air yang diambil di 10 kota besar di Indonesia terkontaminasi bakteri coliform (Kompas, 26 April 2003). Hasil penelitian ini mendapat penguatan dari hasil penelitian Badan Pengawas Obat dan Minuman (POM) Jakarta, bahwa sebanyak 19 depo air dari 95 depo air yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya, Medan, Bandung, Semarang, dan Surabaya tidak memenuhi syarat karena mengandung mikroba (Kompas, 23 Mei 2003).
Berdasarkan hasil pengujian laboratorium Badan POM RI Depo Air Minum yang tidak memenuhi syarat karena mengandung mikroba adalah sebagai berikut:
• Bandung karena kandungan mikroba E. coli di 4 Depo ( 5 A-Qua, Desi, Sellaqua dan
Vistaqua)
• Jakarta karena kandungan mikroba Coliform dan Salmonella di 1 Depo (TQN 165 –
Meruya Selatan, Kembangan)
• Jakarta karena kandungan mikroba Coliform di 3 Depo (Amira, Aquariz dan Extraqua)
• Tangerang karena kandungan mikroba Coliform di 2 Depo (H2O dan Global)
• Medan karena kandungan mikroba E. coli dan Coliform di 2 Depo (Argo Refilindo
dan Azure)
• Surabaya karena kandungan mikroba Coliform di 6 Depo (Aga, Agua, Agura, Agung,
Sari Tirta dan Tirta Lestari).
Berikut beberapa kemungkinan adanya bakteri masuk ke dalam galon yang dikemukakan seorang pengusaha depot air minum :
1.Air hasil dari alat tersebut masih bercampur bakteri/ bakteri tidak mati.
2.Didalam galon kosong (yang akan diisi) ada bakteri.
3.Ruang pengisian air ke dalam galon ada bakteri.
Hal semacam ini juga berkaitan erat dengan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point)
Kami jelaskan ke 3 hal diatas dan hubunganya dengan HACCP untuk menjaga kwalitas air dari System Kongou.

1.Kemungkinan air dari alat tsb masih campur bakteri.
Pertama, air yang sudah diproses melalu filterasi, masuk ke dalam tampungan stainless steel. Dimana didalam tampungan stainless steel terpasang UV SHIDEN 150, yang menyala terus menerus agar bakterinya mati. Karena air yang diam pun, akan menjadi tempat berkembang biaknya bakteri.
Seperti yang tertera dalam gambar. Di clean tank(toren stainless, terdapat SHIDEN 150(*1) yang menyala terus menerus)

Air untuk mencuci galon pun, dengan air yang sudah ) bakterinya, yaitu air dari tampungan stainles,yang sudah dipasang UV SHIDEN 150.

Sesudah dari tampungan stainless ,air disaring lagi dengan micro filter 0.2 dan 0.1 micron, sebelum akhirnya melalui UV SUIJIN 150(*2) dan masuk ke galon.
(*1):SHIDEN150(Produk CV.J-tech Intelligence International) : tenaga UVnya kira kira 10min bisa mematikan bakteriecoli di daram clean tank stainless 1000L.

SUIJIN150(Produk CV.J-tech Intelligence International) : Capasitas process air 500/Jam


2.Kemungkinan didalam galon ada bakteri.
Untum mencuci galon,kami menggunakan air yang sudah steril. Walaupun begitu, bakteri pasti belum seluruhnya hilang dari dalam galon kosong.Untuk mematikan bakteri dari dalam galon, kami menggunakan UV SHIDEN 100 dengan motor drive. Caranya : UV SHIDEN 100,dimasukkan ke dalam galon yang kosong ,lalu dinyalakan. Kira-kira 10-20 detika, bakteri sudah mati.


3.Kemungkinan didalam ruang pengisian ada bakteri (didalam udara)
Walaupun didalam galon sudah tidak ada bakteri,namun didalam ruang pengisian sewaktu mengisi air ke galon. Ada kemungkinan didalam ruangan tsb banyak bakteri. Dan bisa saja bakteri masuk kedalam galon dan bercampur dengan air. Juga pada tutup galon.

Oleh sebab itu, System Kongou dilengkapi dengan UV FUUJIN 100 atau 150 untuk membasmi bakteri didalam ruang pengisisan,sekaligus untuk mensteril tutup galon.

System Kongou, berbeda dengan system isi ulang lainya, karena dalam system Kongou dilengkapi alat streil galon ,alat steril ruangan dan tutup galon,yang sangat aman dan mudah digunakan.




Menurut beberapa pakar, depot air minum isi ulang tidak semua menghasilkan air yang siap dikonsumsi. Bahkan kelayakan air minum isi ulang ini pun tak memenuhi standar nasional Indonesia (SNI). Menurut Suprihatin, peneliti dari IPB, air minum isi ulang telah tercemar bakteri coliform dari resapan limbah rumah tangga. Bakteri e-coli merupakan ukuran mikrobiologis terpenting untuk menakar kualitas air minum. Walupun tidak memberikan efek yang terlalu membahayakan tapi keberadaan bakteri ini membuktikan rendahnya tingkat sanitasi. Intinya, air yang layak diminum harus melewati 3 persyaratan kelaikan, yaitu dari segi fisik,kimia,dan mikrobiologi. Jika standar tersebut sudah terpenuhi, depo tersebut akan diberikan sertifikat izin dari Dinas Kesehatan tersebut.

Untuk mengetahui apakah ada bakteri dalam air minum memang harus diteliti di laboratorium. Tapi, dapat dideteksi secara fisik apakah air layak diminum. Dari segi fisik, air minum tak boleh memiliki bau, rasa, dan warna harus jernih.

Melalui tes laboratorium dapat diteliti dari segi kimia. Air minum harus bebas dari kandungan zat kimia berbahaya, seperti logam berat (air raksa atau merkuri (Hg), timbal (Pb) dan Au) aluminium, besi, serta klorida.

Sedangkan, dari segi mikrobiologi, air minum tidak boleh mengandung bakteri-bakteri patogen (bersifat racun sehingga dapat menimbulkan penyakit). Bakteri yang tergolong patogen adalah E.coli, Salmonella typhii, dan sejenisnya. Karena telah mendapatkan proses sterilisasi, harusnya AMIU dapat langsung dikonsumsi.
Teknologi AMDK atau Depo air isi ulang minuman ini memberi dampak negative terhadap manusia antara lain : menjadikan masyarakat menjadi konsumen yang praktis dan percaya terhadap merk terkenal, tentunya yang paling penting menyebabkan penyakit bagi masyarakat itu sendiri. Masyarakat hanya bisa menerima karena merk yang sudah terkenal tidak mau cerewet bertanya bagaimana mutu dari air kemasan itu tersendiri tentunya tidak tahu menahunya bagaimana kualitas air kemasan tersebut merugikan diri masyarakat sehingga menimbulkan penyakit.
Adanya penelitian bahawa bakteri E.coli terdapat dibeberapa depot isi air minuman isi yang banyak ditemui di kotoran manusia dan hewan menunjukkan kualitas sanitasi yang rendah dalam proses pengadaan air.


Makin tinggi tingkat kontaminasi bakteri coliform, makin tinggi pula risiko kehadiran bakteri patogen, seperti bakteri Shigella (penyebab muntaber), S. typhii (penyebab tifus), kolera, dan disentri , demam, kram perut, dan muntah-muntah. Keberadaan bakteri dalam air minum bisa disebabkan oleh air bakunya yang tercemar, waktu pemaparan radiasi dengan sinar ultraviolet kurang memadai sehingga bakteri tidak terbasmi selama penyinaran.

You Might Also Like

0 comment

Terimakasih sudah bersedia membaca, silahkan isi pesan dan kesan atau kritik di kolom komentar dibawah ini